Fundamental Bank Digital Dinilai Dengan Costumer Base Value

oleh -2 Dilihat
Customer Base Value; Alternatif Penilaian Fundamental Bank Digital

Media Investasi- Euforia bank digital sedang melanda Tanah Air. Namun, menurut Reza Priyambada selaku analisis senior CSA Research Institute, fundamental bank digital belum kuat. 

Sementara Lo Kheng Hong, sang investor kawakan tidak ikut-ikutan membeli saham bank tersebut. Menurutnya tidak ada dalam portfolionya untuk membeli saham digital. Apalagi harganya yang tidak masuk akal, menurutnya. 

Customer Base Value; Alternatif Penilaian Fundamental Bank Digital

Customer Base Value; Alternatif Penilaian Fundamental Bank Digital

Masih menurut investor yang dijuluki Warren Buffet Indonesia ini, banyak bank digital secara valuasi harga saham dibanding nilai bukunya (price to book value) sangat mahal. Nilai ini bisa mencapai sampai 50 kali nilai buku. Sedangkan, asetnya justru sangat kecil, di bawah Rp 10 triliun. Ini sangat tidak masuk akal. 

Lelaki ini mengibaratkan saham bank digital ini ibarat bajaj yang dijual seharga Mercy. 

Harga saham bank digital saat ini dinilai masih belum sesuai dengan harga sewajarnya karena kondisi fundamentalnya yang belum bagus. Menurut  teori, basis harga sebuah saham adalah fundamental. 

Penyebab melambungnya harga saham bank digital dinilai karena tingginya ekspektasi para investor terhadap prospek bank ini di masa depan. Sustainability mereka belum teruji sebab belum diketahui prospek mereka nantinya. Inilah yang menurut Reza bahwa fundamental bank digital belum kuat.

Dibalik Melonjaknya Saham Bank Digital

Customer Base Value; Alternatif Penilaian Fundamental Bank Digital
Dibalik melonjaknya saham bank digital

Harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) sudah meroket 5.955,66% ke Rp 16.775/unit. Ini terjadi  pada Jumat 4 Februari 2022  pukul 10.30 WIB silam, sejak resmi dikuasai oleh Jerry Ng dkk. 

Baca juga: Saham Emiten Properti Terbaru, Ini Informasi dan Rekomendasinya

Lonjakan fantastis ini membuat saham ARTO naik menempati posisi ke-5 besar saham dengan kapitalisasi terbesar.

Tahun 2022 jelas menjadi tahun pengujian apakah janji para pemilik bank digital ini akan terbukti atau tidak lewat kinerjanya. 

Kenaikan harga saham yang tajam telah membuat valuasi bank mini menjadi terlihat ‘mahal’. Penggunaan metode valuasi yang umum dipakai di industri keuangan seperti Price to Book Value (PBV), membuatnya menjadi sangat premium. 

Banyak ahli menilai metode valuasi konvensional sudah kurang relevan digunakan untuk menilai seberapa besar nilai intrinsik dari bank-bank digital. Meskipun bisnis bank modelnya tetap funding dan lending, fokus bank-bank digital adalah pengembangan ekosistem. 

Tentunya dalam memvaluasi, seorang investor maupun analis wajib menggunakan asumsi-asumsi yang rasional. Sebab ini ibarat startup ke depannya berbagai pihak menyebut akan banyak bank digital yang gagal karena tidak didukung oleh ekosistem yang kuat. Bagaimana menurut Anda? Apakah benar fundamental bank digital belum kuat atau si ‘bajaj’ akan berubah menjadi mercy nanti? 

Author